Jumat, 13 Juli 2012

Mengapa Harus bermadzhab


1-    Mengapa dalam memutuskan masalah kita harus mengikuti para imam, bukan langsung dari al-qur’an sendiri? Padahal bisa dikatakan kalau para imam tersebut sering berbeda pendapat. Selain itu, kita juga sudah berpegang teguh pada al-qur’an.
Jawaban: dalam memutuskan masalah kita tidak harus mengikuti imam tertentu, Kecuali kalau kita tidak mampu untuk memutuskan masalah tersebut dengan cara mencarinya sendiri dalam alquran & alhadist. Karna tak semua hukum terpampang jelas dalam alqur’an & alhadist. Satu conto konkrit, tolong anda sebutkan keterangan dalam alquran atau hadist, bahwa sholat dzuhur itu 4 rokaat. Saya yaqin anda & siapaun tak akan mampu menjawab. Jika anda menjawab rosulullah bersabda: “sholatlah sebagaimana kamu melihat aku sholat” dan sholat dzuhur beliau itu 4 rokaat. Aku tanya pada anda: pernahkah anda melihat rosulullah sholat??? Jawabannya pasti anda tahu karna anda mengikuti penjelasan orang ‘alim kan...  Oleh karnanya saat kita tidak tahu akan hukum tentang sesuatu kita harus mengikuti pendapat imam yang lebih tahu untuk kita ikuti. Dan perlu diketahui bahwa mengikuti seorang imam yang lebih tahu disaat kita tidak tahu, hukumnya adalah wajib. Karna itu adalah perintah Allah dalam alquran. Allah berfirman:
 فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُون
Artinya: “Bertanyalah kalian semua kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.” Q.S. an-Nahl: 43: selain itu mengikuti seorang imam itu sama halnya dengan mengikuti alquran karna penjelasan yang beliau sampaikan itu bersumber dari alquran.
          Mengenai mengikuti alquran secara langsung tidak semua orang mampu untuk itu. Karna dalam memahami alquran sebelum mengikutinya membutuhkan banyak memahami ilmu yang lain seperti ilmu badi’, ilmu mantek, ilmu balaghoh, ilmu lughot serta masih banyak lagi. Kita lihat saja sejarah. Anda tentu tahu bahwa rosulullah adalah orng yang menerima wahyu alquran, juga orang yang pertama kali mengikuti dan mengamalkan alquran. namun apa rosulullah memahami alquran itu sendirian? Jawabnya tentu “TIDAK”. Rosulullah sebagai pembawa alquran, dalam memahaminya saja butuh bimbingan dari Allah baik secara langsung maupun melalui Jibil.a.s. Para sahabat dalam memahami alquran butuh bimbimgan rosulullah. Berikutnya generasi tabi’in, para tabi’in dalam memahami alquran butuh bimbingan para sahabat. Hingga sampailah para imam & para ulama’, mereka semua dalam memahami alquran butuh bimbingan guru-gurunya yang kalau di telusuri secara berantai maka bimbingan itu akan berpusat kepada rasulullah dari Jibril dari Allah. Sekarang cobalah kita bertanya kepada diri sendiri & semua orang disekitar kita, siapa kiranya diantara kita yang mampu memahami alquran lalu mengikutinya secara otodidak??? Jawabnya tentu “TIDAK ADA”. Oleh karna itulah mengikuti pendapat para imam lebih mudah untuk kita semua yang yang belum mampu memahami alquran sendiri(tanpa mengikuti imam).
          Mengenai perbedaan pendapat para imam, itu adalah hal yang wajar & tidak dilarang oleh agama selama perbedaan itu tidak pada hal-hal yang bersifat prinsipil dalam agama(ushul). Karna perbedaan pendapat itu memang sudah dikenal sejak awal islam bahkan diketahui oleh rosulullah. Para sahabat sebagai murid rosulullah langsung juga sering beda pendapat. Bahkan rosulullah sendiri melegalkan perbedaan pendapat tersebut. Rosulullah bersabda:
  من حديث ابن عباس مرفوعا اختلاف أصحابي رحمة
Dari ibnu abbas secara marfu’ dari rosulullah: perbedaan sahabatku adalah rahmat. HR.Baihaqi. Sesuai sabda nabi perbedaan pendapat adalah rahmat, maka perbedaan para imam justru lebih memudahkan kita untuk mengikuti pendapat yang paling cocok untuk kondisi kita. Alhasil islam memprbolehkan beda pendapat selama pendapat-pendapat tersebut memiliki dasar dari alquran atau hadist dan diambil dengan pemahaman yang tepat & benar. Hanya saja islam tidak mengajarkan menyesatkan orang lain ketika tidak sependapat.
          Masalah kata-kata pertanyaan anda di atas “Selain itu, kita juga sudah berpegang teguh pada al-qur’an” saya jadi ingin bertanya kepada anda. Seberapakah perbuatan anda sesuai dengan alquran? Sudahkah anda menjauhi ma’siat sesuai perintah alquran? Sudahkah anda taat beribadah sebagaimana perintah alquran? Lalu sudah pantaskah anda mengaku berpegang teguh dengan alquran? Kita memang harus berpegang teguh dengan alquran, namun mengkuti pendapat seorang imam bukan berarti kita tidak mengikuti alquran. Karna pendapat para imam hasil pemahaman dari alquran dan juga tidak bertentangan dengan alquran. Dengan demikian, maka mengikuti pendapat imam itu sama halnya dengan mengikuti alquran. Wallahu a’lam...

2-    Apa dalam memilih seorang imam kit harus selalu mengikuti imam yang sebelumnya telah diikuti oleh orang tua & sesepuh kita? Apalagi ketika masih bayi, apa seorang bayi telah dikatakan mengikuti imam padahal dia tidak tahu apa-apa? Lagi pula, maaf, belum tentu imam yang diikuti orang tua & sesepuh kita itu benar. Apalagi banyak perbedaan diantara imam tersebut.
Jawaban: dalam memilih seorang imam kita tidak harus mengikuti imam yang telah diikuti oleh orang tua & sesepuh kita. Namun kita wajib memilih imam yang pendapatnya tidak menyalahi alquran & alhadist, dan juga tidak bertentangan dengan ajaran rasulullah & para sahabat. Ada hal yang perlu saya sampaikan kepada anda bahwa akhir-akhir ini gerakan anti madzhab(anti mengikuti ulama’) menjamur. Mereka sering mengkritik apa yang telah dibenarkan para imam jaman dahulu, seperti mengharamkan ziarah kubur, tawasshul, yasinan, peringatan maulid nabi & semacamnya. Dalam membenarkan pendapatnya mereka juga mengutip ayat alquran juga hadist. Namun tahukah anda, jika mereka sebenarnya belum ahlinya untuk memahami alquran secara langsung karna belum menguasai ilmu-ilmu terkait lainnya. Oleh karnanya apa yang mereka sampaikan hampir 100% bertentangan dengan apa yang telah disampaikan para imam jaman dahulu(salaf) seperti Imam Syafi’i, Imam Chanafi, Imam Maliki & Imam Hambali.
           Anak yang masih bayi belum mengikuti imam siapaun. Karna dia belum kena kuwajiban apa-apa. Termasuk wajibnya mengikuti pendapat ulama’/imam. Karna wajibnya mengikuti ulama’ atau imam itu bagi orang dewasa yang tidak mampu memahami hukum-hukum yang terkandung dalam tiap kata & ayat yang ada pada alquran dengan benar.
           Mengenai para imam belum tentu benar, memang seperti itulah para imam yang notabenenya manusia biasa yang tak luput dari hilaf & salah. Namun apakah jika anda mengikuti alquran secara langsung dengan pemikiran anda, andalah yang pasti benar? Ataukah pendapat selain para imam itulah yang pasti benar? Tentu jawabnya adalah “TIDAK JUGA”. Perlu anda tahu bahwa alquran memang pasti benar, namun pemahaman manusia terhadap alquran belum tentu benar. Apalagi jika memahaminya tidak didukung dengan keilmuan yang memadai, maka bisa di pastikan dia akan salah dalam memahami alquran. Perlu saya sampaikan juga disini, bahwa para imam yang sudah memiliki keilmuan yang memadai dalam memahami alquran dia akan tetap mendapatkan pahala sekalipun dalam menyimpulkan penjelasan yang mereka fahami dari alquran terjadi kesalahan. Hal ini sesuai dengan sabda nabi:
الإبانة الكبرى لابن بطة  - ج 2 / ص 213
حدثنا أبو بكر عبد الله بن محمد بن زياد النيسابوري ، قال : حدثنا محمد بن يحيى ، قال : حدثنا عبد الرزاق ، قال : أخبرنا معمر ، والثوري ، عن يحيى بن سعيد ، عن أبي بكر بن محمد ، عن أبي سلمة ، عن أبي هريرة ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « إذا اجتهد الحاكم فأصاب فله أجران اثنان ، وإذا اجتهد فأخطأ فله أجر واحد»
 Artinya: bercerita hadist pada kami Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Ziyad Annaisaburi, beliau berkata: bercerita hadist pada kami Muhammad bin Yahya, beliau berkata: bercerita hadist pada kami Abdur Rozzaq, beliau berkata: memberitahu hadist pada kami Ma’mar & Assauriy, dari Yahya bin Sa’id, dari Abi Bakar bin Muhammad, dari Abi Salamah, dari Abi Hurairah, beliau berkata: rasulullah saw bersabda:« ketika seorang hakim(orang yang bijak bersungguh-sungguh dalam memahami alquran) kemudian dia benar, maka dia mendapatkan dua pahala. Dan apabila dia sungguh-sungguh kemudian dia salah, maka dia mendapatkan satu phala». Dua pahala bagi yang benar itu adalah pahala kesungguhannya & pahala kebenarannya. Sedangkan satu pahala bagi yang salah adalah pahala kesungguhannya saja.
           Mengenai banyaknya perbedaan pendapat ulama’ saya rasa sudah terwakili pada soal nomer satu bagian ahir. Silahkan anda membacanya kembali.
 Wallahu a’lam...

3-    Mengapa para imam sering beda pendapat? Padahal beliau-beliau tahu bahwa kuncinya ada pada alquran & alhadist.
Jawaban: jika anda tanya mengapa, maka jawabnya perbedaan pendapat tersebut memiliki beberapa faktor. Di antaranya: para imam meiliki cara berfikir yang berbeda dalam memahami alquran, situasi kondisi & lingkungan yang berbeda antara imam satu dengan imam yang lain, kapasitas keilmuan para imam yang berbeda meskipun secara garis besar mereka sama-sama ahlilnya. Satu contoh begini, ada seorang guru yang sedang mengajar berkata pada muridnya yang nakal bernama Zaid, hai Zaid! Berdiri! Maka kata-kata pak guru ini memiliki beberapa pemahaman yang mungkin tidak bisa kita salahkan:
1-    Zaid harus berdiri dan tidak boleh duduk sebelum pak guru menyuruhnya duduk sekalipun pelajaran sudah selesai & pak guru keluar dari ruang kelas. Karna pak guru menyuruh berdiri tampa menyebutkan batas waktu.
2-    Zaid harus berdiri dan diperbolehkan duduk jika pelajaran sudah selesai,       meskipun pak guru tidak menyuruhnya duduk. Karna  begitulah yang sesuai dengan kebiasaan secara umum.
3-    Zaid harus berdiri dan boleh duduk setelahnya, meskipun berdirinya hanya sebentar & tidak disuruh duduk oleh pak guru. Karna perintah dari pak guru intinya adalah Zaid harus melakukan berdiri. Sedangkan dengan berdirinya Zaid meskipun hanya sebentar berarti Zaid telah melakukan perintah tersebut.
Cobalah anda nilai sekarang, antara 3 pemahaman di atas manakah pemahaman yang salah & apa alasanmu menyalahkan. Lalu sebutkan mana pemahaman yang benar & sebutkanlah alasanmu membenarkan. Seperti perbedaan pemahaman pada kata-kata pak guru diatas, begitulah sedikit gambaran ilustrasi para imam mengalami perbedaan pemahaman & pendapat dalam memahami ayat alquran & hadist yang sama.
           Mengenai alquran & alhadist sebagai kunci setiap permasalahan, para imam tahu akan itu. Bahkan kita yang bodoh juga tahu. Namun justru dari ayat alquran & hadist yang bersifat umum & tidak mengikat hingga ahirnya terjadi beberapa pemahaman(multi tafsir). Dari situlah Allah mengajarkan kepada hambanya agar mau bertukar pendapat(bermusyawarah), saling merhargai pendapat, bisa menerima perbedaan pendapat hingga perbedaan prinsip, yang kesemuaannya sangat berguna dalam kehidupan bermasyarakat yang majmu’ dan memiliki kultur budaya & cara pandang yang berbeda. Oleh karnanya seperti yang tertulis dalam syarah shoheh buhoriy nabi bersabda:
شرح النووي على مسلم - (ج 6 / ص 27)
 قَالَ الْخَطَّابِيُّ : وَقَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : " اِخْتِلَاف أُمَّتِي رَحْمَة " فَاسْتَصْوَبَ عُمَر مَا قَالَهُ
Artinya: Alkhotobiy(seorang ahli hadist) berkata: dan sungguh diriwayatkan dari nabi saw sesungguhnya beliau bersabda: “perbedaan umatku(ulama’ mujtahid/imam) adalah rahmat” dan Umar  membenarkan penyampaian tersebut.
 Wallahu a’lam...

Tidak ada komentar: