2. K.H. Abdul Wahab Chasbullah
Ia lahir pada bulan Maret 1888 di Tambakberas, Jombang. Nasabnya
tidak jauh dari K.H. Hasyim Asy`ari. Nasab keduanya bertemu dalam satu keturunan
dari Kiai Abdus Salam. Ayahnya(K. H. Chasbullah) adalah pengasuh Pondok
Pesantren Tambakberas. Ibunya, Nyai Lathifah, juga putri kiai kondang. Pendidikannya
dihabiskan di pesantren, mulai dari Pesantren Langitan (Tuban), Mojosari,
Nganjuk, di bawah bimbingan Kiai Sholeh, Pesantren Cepoko, Tawangsari
(Surabaya), hingga Pesantren Kademangan, Bangkalan (Madura), langsung berguru
kepada Mbah Cholil. Kiai Cholil yang kemudian menganjurkannya belajar ke
Pesantren Tebuireng (Jombang).
Pada tahun 1914, ketika
berumur 26 tahun, ia mendirikan kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan
Pemikiran) bersama K.H. Mas Mansur. Pada tahun 1916, ia mendirikan Madrasah
Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Negeri) di Surabaya. Pengajarnya terdiri dari
banyak ulama tradisional muda, seperti K.H. Bisri Syansuri (1886-1980) dan K.H.
Abdullah Ubaid (1899-1938), yang di kemudian hari memainkan peranan penting di
NU. Masih pada tahun yang sama, bersama Kiai Hasyim Asy’ari (1871-1947), ia
mendirikan koperasi dagang Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang) untuk
kalangan tradisionalis di kisaran Surabaya-Jombang.
Pada tahun 1920, ia juga aktif dalam Islam Studie Club, jembatan
untuk menghubungkan dirinya dengan tokoh-tokoh nasionalis modernis, seperti dr.
Soetomo. Sejak 1924,Kyai Wahab
Chasbullah telah mengusulkan agar dibentuk perhimpunan ulama untuk melindungi
kepentingan kaum tradisionalis. Pada 31 Januari 1926, atas persetujuan Kyai
Hasyim Asy`ari, ia mengundang para ulama terkemuka dari kalangan tradisionalis
ke Surabaya untuk mengesahkan terbentuknya Komite Hijaz, yang akan mengirim
delegasi ke kongres di Makkah untuk mempertahankan makam Nabi SAW yang terancam
digusur pemerintahan wahabi di saudi arabiya.
Pertemuan tersebut akhirnya juga menghasilkan kesepakatan
mendirikan NU, sebagai representasi Islam tradisional, untuk mewakili dan
memperkukuh Islam tradisional di Hindia Belanda. Kemudian, MIAI (Majelis Islam
A’la Indonesia, Dewan Tertinggi Islam di Indonesia), yang terbentuk pada
September 1937, juga merupakan gagasan K.H. Wahab Chasbullah dan K.H. Ahmad
Dahlan Kebondalem (NU), K.H. Mas Mansur (Muhammadiyah), dan Wondoamiseno (SI).
Federasi organisasi Islam ini bertujuan meningkatkan komunikasi dan kerja sama
di antara umat Islam. Namun kemudian MIAI dibubarkan oleh Jepang dan
dibentuklah Masyumi pada November 1943. K. H. Hasyim Asy`ari ditunjuk sebagai
ketua umum dan K.H. Whab Chasbullah sebagai penasihat dewan pelaksananya.
November 1945, Masyumi berubah menjadi parpol. Masyumi menjadi
satu-satunya kendaraan politik umat Islam. K.H. Hasyim Asy`ari menjadi ketua
umum Majelis Syuro (Dewan Penasihat Keagamaan), K.H. Wahid Hasyim(putra Kyai
Hasyim Asy`ari), menjadi wakilnya, dan K.H. Wahab Chasbullah menjadi anggota
dewan. Selanjutnya, setelah NU menyetujui peran politik bagi Masyumi lewat
muktamar di Purwokerto (1946), orang-orang NU tampil di pemerintahan, yakni K.H.
Wahid Hasyim, Kiai Masykur, dan K.H. Fathurahman Kafrawi. Sedang K.H. Wahab
Chasbullah menjadi anggota DPA.
Benih-benih krisis NU-Masyumi mulai tumbuh pada 1952. Saat itu K.H.
Wahab Chasbullah menjadi ketua Dewan Syuro. Maka ia sangat gencar
mengkampanyekan penarikan diri NU dari Masyumi. Dan secara resmi NU menarik diri
dari Masyumi pada 31 Juli 1952. Pada sidang parlemen 17 September 1952, tujuh
anggota parlemen dari NU menarik diri dari Masyumi. Di antaranya K.H. Wahab
Chasbullah, K.H. Idham Chalid, dan Zainul Arifin. Mereka kemudian membentuk
partai sendiri, NU. Akibatnya, Masyumi bukan lagi partai terbesar. “Gelar” itu
jatuh ke tangan PNI. Pada Pemilu 1955, di luar dugaan, NU meraih tempat ketiga
setelah PNI dan Masyumi.
K.H. Wahab Chasbullah wafat
tanggal 29 Desember 1971, pada usia 83 tahun, di rumahnya di Kompleks Pesantren
Tambakberas, Jombang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar