4. K.H. Ahmad Shiddiq
Ahmad Shiddiq lahir di Jember tepat seminggu sebelum NU diresmikan
berdirinya oleh K.H. Hasyim Asy’ari, yaitu 24 Januari 1926.
“Ibarat makanan, Pancasila,
yang sudah kita kunyah selama 36 tahun, kok sekarang dipersoalkan halal dan
haramnya.” Demikian ungkapan K.H. Ahmad Shiddiq mengenai penerimaan NU terhadap
Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi, dalam Munas Alim Ulama 1983 di
Situbondo. NU adalah organisasi Islam pertama yang menerima Pancasila sebagai
asas tunggal, padahal tidak sedikit umat yang menolaknya, apalagi partai Islam.
Itulah ketokohan, kemampuan intelektual, dan kapasitas keulamaan K.H. Ahmad
Shiddiq.
Pada Muktamar NU ke-28 itu ia berhasil menyelamatkan duet dirinya
dengan Gus Dur, yang banyak menerima guncangan dari sebagian warga NU sendiri. Begitu
juga mengenai “kembali ke khiththah NU 1926”. Meski bukan satu-satunya perumus,
dialah yang disepakati sebagai bintangnya kembali ke khiththah. Pada 1979 ia
menyusun pokok-pokok pikiran tentang khiththah Nahdliyah, sebagai sumbangan
berharga bagi warga NU. Ia diangkat menjadi sekretaris pribadi menteri agama
ketika jabatan itu dipercayakan kepada K.H. Wahid Hasyim pada 1950. Ketika
menjadi ketua Tanfidziyah NU, Abdurrahman Wahid(cucu K.H. Hasyim Asy`ari), pun
berduet dengannya sebagai rais am PBNU. Sebelum itu, ia mundur dari DPR hasil
Pemilu 1955, karena, “Saya selalu bicara keras soal Nasakom.” Ia hadir kembali
sebagai wakil rakyat setelah pemilu Orde Baru pertama, 1971.
Tanggal 23 Januari 1991, K.H. Ahmad Shiddiq berpulang ke
rahmatullah pada usia 65 tahun. Sesuai wasiatnya, ia dimakamkan di pemakaman
Auliya, Ploso, Kediri, tempat beberapa kiai hafal Al-Quran dikuburkan. bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar