Aswaja dalam Konteks Historis
Kaum muslimin pada masa Rasullullah
SAW adalah umat yang satu, tidak terkotak-kotak dalam aneka kecenderungan, baik
kabilah, paham keagamaan, ataupun visi sosial politik. Segala masalah yang
muncul segera teratasi dengan turunnya wahyu dan disertai dengan pengarahan
dari Rasullulah SAW. Walaupun tradisi kaum muslimin yang cukup dinamis dan
terkendali pada waktu itu. Konon Rasulullah SAW sering memfrediksi “kondisi
nyaman” ini akan segera pudar sepeninggal beliau. Prediksi Rasullulah SAW itu
terungkap dalam beberapa hadits, yang biasanya diawali dengan kata-kata
“saya’ti ala ummati Zaman” (umatku akan sampai pada suatu masa), “sataf tariqu
ummati” (umatku akan terpecah) dan seterusnya.
Berdasarkan hadits “model Prediksi” itulah
istilah Ahlusunnah Wal Jamaah ditemukan. Rasulullah SAW.bersabda :”Umatku akan
terpecah menjadi 73 golongan, hanya satu golongan yang selamat dan yang lain
binasa”. Ditanyakan :Siapakah golongan yang selamat itu ? Rasulullah menjawab
Ahlussunnah Wal Jamaah. Ditanyakan: apa Ahlussunnah Wal Jamaah itu ?.
Rasulullah menjawab: “apa yang aku dan sahabat-sahabatku lakukan saat ini”
Hadits
“iftiraqul ummah” diatas seperti yang dikatakan Abdul Qahir, mempunyai banyak
isnad dan banyak sahabat yang meriwayatkannya. Namun demikian, ulama berbeda
pendapat tentang keshahihan hadits tersebut.
Yang pertama: berpendapat dhaif dengan
hujjah tak satu pun dari sekian isnad yang tidak mengandung perawi dhaif . Yang
kedua: berpendapat muhtajju bihi dengan alasan: meskipun tidak satu pun isnad
yang tidak mengandung perawi dhaif tapi banyaknya isnad dan sahabat yang
meriwayatkan, memperkuat dugaan adanya hadits tersebut.(lihat :Al-Baghdady,
Al-farqu Bainal firaq,Hal 7 catatan kaki).
Aswaja yang akan muncul kemudian,
sudah dikenal sejak masa Rasulullah SAW, tetapi Aswaja sebagai realitas
komunitas muslim belum ada pada masa itu. Atau dengan kata lain kaum muslimin
pada masa Rasulullah itulah Aswaja; berdasarkan hadits tadi “ma ana alaihi
al-yauma wa ashhabi” bahwa aswaja adalah sikap dan amalan yang kulakukan
sekarang bersama sahabat-sahabatku. Jadi amalan (Sunnah) Rasul yang bersama
para sahabat itulah yang disebut Aswaja. “iftiragul ummah” dari prediksi Rasul
menjadi kenyataan dan adanya satu firqah (golongan) yang selamat, sudah dikenal
pada masa sahabat. Akan tetapi klaim sebagai Aswaja belum ada pada masa
sahabat.
Setelah beliau wafat, kecenderungan
politik dengan segala frediksinya mulai tampak ke permukaan, antara golongan
Anshar, Muhajirin, dan Ahlul Bait. Tetapi .frediksi itu segera teratasi,
setelah mayoritas umat sepakat membaiat Abu Bakar, kemudian Umar, Usman, dan
Ali sebagai pimpinan tertinggi kaum muslimin (khalifah-Khulafa). Tetapi itu
bukan berarti frediksi kecenderungan politik pudar pada masa yang dikenal dengan
era Khulafa al-.Rasyidin itu. Frediksi itu terus berkembang dan menunggu waktu
yang kondusif untuk muncul.
Berangkat dari
wafatnya sayyidina usman sebagai fitnah kubra I yang segera diikuti perang
shiffin sebagai fitnah kubra II, visi dan friksi kaum muslimin sudah sulit
untuk disatukan kembali. Semua golongan yakin akan “kebenaran” visinya. Atas
dasar keyakinan itulah semua golongan membangun tradisi intelektual dari semua
lini disiplin ilmu keislaman yang berkembang. Landasan tradisi intelektual diatas,
akhirnya semakin kokoh, setelah kaum muslimin berinteraksi dengan ragam budaya
lokal, seperti Parsi, India, Asyuri, Finiqi, Zoroaster Masehi, Yahudi, dan yang
paling menonjol adalah tradisi Hellenisme Yunani.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar